LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Kamu dan Mimpiku


Di sebuah ploso terpencil tumbuh gadis berparas cantik. Rati, terlahir dari keluarga sederhana. Selain berparas cantik,Rati  juga dikenal dengan kelembutan yang melekat pada dirinya.

 Di pinggir rumahnya terletak ayunan tempatnya bermain, rambut hitam panjang menjuntai SE irama dengan tiupan angin di kala sore itu.

" Rati...masuk nak sudah sore." (titah ibu rati)

Mendengar panggilan ibunya Rati bergegas masuk kedalam rumah. Adzan magrib berkumandang, Bapak segera menggelar sajadah memimpin sholat untuk memenuhi panggilan Tuhan.

"Assalamualaikum warahmatulloh"

"Assalamualaikum warahmatulloh"


Sholat magrib dilakukan dengan 

syahdunya, diakhiri panjatan doa untuk kebaikan keluarga kecil mereka, terutama untuk kebahagiaan putri tersayang nya.

"Rati...."( panggil sang ibu)

" Iya Bu..?( Menutup Buku bacaan ditangan nya)

" Bapak dan ibu ingin membicarakan sesuatu "(ujar sang ibu, Melirik ke arah bapak)

"Ada apa Bu,pak,?"

" Rati sekarang sudah besar yaa. Nak kemaren ada seorang lelaki meminta Rati kepada bapak dan ibu,dia ingin menjadikan Rati sebagai istrinya,apa Rati bersedia nak.?( ucap bapak Rati)

" iya nak, insya Alloh dia lelaki yang tepat untuk rati".(tambah ibu)

Rati tersenyum kecut mendengar ucapan orang tua nya, Diusia nya yang baru genap 18 tahun dia harus memulai ibadah terpanjang dalam hidup nya. Rati memiliki mimpi besar, ia ingin berkuliah ke kota untuk mengejar mimpinya dimasa depan.

" pak,buk, Rati merasa belum siap untuk hal tersebut,jika boleh jujur Rati tidak ingin menikah muda."(ucapnya menundukkan kepala)

Kedua orang tua Rati memang belum mengetahui prihal keinginan nya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Rati sangat sungkan untuk memberi tahu dari kemaren,Rati fikir ia akan memberi tahu esok hari,namun perkataan dari kedua orang tua nya membuat Ratih mengurungkan niatnya.


" Nak,menikah nanti maupun sekarang tidak ada bedanya,kamu akan tetap dipinang oleh lelaki lain,bapak dan ibu juga sudah tua nak, kami ingin Rati ada yang menemani jika sewaktu-waktu kami tidak ada. Kami pasti akan bahagia jika Rati mau menerima pinangan ini"


beberapa bulan kemudian, pernikahan resmi digelar. para kerabat, tetangga dan saudara sudah berkumpul dirumah Rati. Dilain tempat Rati terus memandangi  dirinya didepan cermin hias,ia menyakinkan dirinya berulang kali bahwa keputusan yang dia ambil sudah tepat.

"Bismillah ya Alloh semoga ini pilihan yang tepat,demi kebahagiaan ibu dan bapak" (lirih Rati menyakinkan dirinya)


Acara berlangsung dengan meriah, beberapa menit yang lalu Rati resmi menyandang gelar sebagai seorang istri. 


"Dek...."(panggil Raka,lelaki yang menjadi suaminya)

"iya mas.."(jawabannya,menoleh ke arah suaminya)

"Adek bahagia menikah dengan mas?,mas perhatikan adek banyak melamun dari tadi"(tanya Raka)

" Adek bahagia mas,cuman masih nggak nyangka aja ternyata adek udah jadi seorang istri"(tutur halus Rati)

"Alhamdulillah kalo adek bahagia,adek tenang aja, meskipun udah jadi seorang istri,nantinya adek masih bisa wujudkan keinginan adek untuk melanjutkan pendidikan"(Ucap Raka)

Raka tau bahwa sedari lama Rati memiliki keinginan untuk kuliah di kota,ia tidak ingin istrinya mengubur keinginan tersebut hanya karna ia sudah menikah,bagi Raka apapun itu selagi untuk kebaikan ia akan dukung apalagi untuk pendidikan yang tentunya kelak ia ajarkan pada anak kami nanti.


Rati terharu dengan penuturan suaminya,Rati kira setelah menjadi seorang istri ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mewujudkan impian nya.

"Masya Alloh mas, terimakasih banyak."( ucap Rati, tersenyum penuh haru).


Beberapa bulan kemudian....

Rati kini disibukkan dengan pekerjaan double, menjadi istri dan mahasiswa baru di universitas ternama. Seminggu setelah menikah ia dibawa suaminya merantau ke kota,dikota tersebut Rati melanjutkan mimpi nya untuk kuliah .


"Mas adek berangkat kuliah dulu, doakan adek semoga dilancarkan semuanya"(ucap Rati mencium tangan suaminya")

"iya dek,hati hati dijalan,mas pasti doain adek terus"(mencium kening istri tercintanya).


menikah  muda bukan penghalang untuk kita mengejar mimpi yang sudah disusun rapi, Asalkan dengan partner yang mau mengerti, memahami ,dan Se frekuensi dalam berbagai hal. Jadi mau apapun itu, akan terasa lebih mudah untuk dijalani.


Penulis : Nur Santi 

Pimred: Moh Kholis

Penanggung Jawab: Nur Azizah ( PU LPM ALIF )

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca