LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Jas yang Tak Bertoga

Di sudut perpustakaan daerah yang berdebu, Seno duduk menekur Tangannya yang kasar—berkapalan akibat bertahun-tahun mengaduk semen dan memanggul kayu—membelai lembut permukaan kemeja putih halus dan sestel jas hitam yang tergantung rapi di sandaran kursi.

Jas itu dibelinya dari toko pakaian bekas dua hari lalu. Kualitasnya tak seberapa, tetapi bagi Seno, jas itu adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki. Sayangnya, ada satu hal yang kurang: tak ada toga di samping jas itu.

"Bapak?"

Sebuah suara lembut memecah ketenangan. Seno mendongak dan mendapati Fajar, putranya, berdiri dengan gaun wisuda berwarna hitam berkilau. Toga berbentuk segi empat terpasang sempurna di kepala Fajar, lengkap with kuncir emas yang sudah berpindah dari kiri ke kanan.

"Fajar... kamu sudah selesai wisudanya?" Seno tergesa-gesa berdiri, merapikan jas hitamnya yang sedikit kebesaran di bahu.

"Sudah, Pak. Fajar langsung cari Bapak ke sini. Kenapa Bapak tidak masuk ke dalam auditorium? Kan Fajar sudah kasih kartu undangannya," ujar Fajar, matanya menyimpan rasa bersalah sekaligus haru.

Seno tersenyum tipis. Ia mengusap bahu putranya dengan bangga. "Di dalam ramai sekali, Jar. Orang tua lulusan lain semuanya berpakaian mewah, naik mobil bagus. Bapak... Bapak minder. Bapak takut bikin kamu malu di depan teman-teman dosen dan lulusan cumlaude lainnya. Jas Bapak ini beli di pasar loak, kaku dan baunya bau kapus barus."

"Bapak..." Suara Fajar tertahan di tenggorokan.

Sejak ibunya meninggal belasan tahun lalu, Seno bekerja mati-matian sebagai kuli bangunan. Ia meremas punggungnya yang makin membungkuk demi memastikan Fajar tak perlu putus sekolah. Seno sendiri bahkan tak pernah menamatkan sekolah dasar. Ia tak tahu bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah, apalagi memakai toga.

"Bapak tahu?" Fajar melangkah mendekat, memegang kedua pundak ayahnya. "Toga yang saya pakai sekarang ini tidak ada artinya tanpa jas kaku yang Bapak pakai itu."

Fajar melepas topi toganya, lalu memasangkannya dengan perlahan ke kepala sang ayah.

"Lho, Fajar, jangan! Itu punya kamu, kamu yang sarjana!" protes Seno kaget, tangannya hendak melepas topi itu.

Namun, Fajar menahannya. "Jas Bapak memang tidak punya toga bawaan. Tapi jas itulah yang membiayai toga saya. Tanpa keringat di balik jas tua Bapak ini, saya tidak akan pernah berdiri di sini hari ini. Bapak sarjana yang sebenarnya dalam hidup saya."

Seno tertegun. Matanya yang mulai kabur oleh katarak perlahan membendung air mata. Ia mengusap pinggiran topi toga yang kini bersandar di kepalanya, merasa asing sekaligus hangat.

Di antara deretan rak buku tua dan aroma kertas lapuk, seorang anak laki-laki merangkul erat ayahnya. Hari itu, Seno tidak mendapatkan ijazah atau gelar akademis. Namun, di bawah lampu perpustakaan yang remang, jas tanpa toga milik seorang kuli bangunan telah mendapatkan kehormatan tertinggi dari sang anak.


Penulis : Amira El Zahwa

Pimred : Moh . Kholis 

Penanggung Jawab: Nur Azizah ( PU LPM ALIF)

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca